“Dalam pandangan kami yang Eropasentris, disamping peradaban Eropa sendiri, hanya ada beberapa peradaban lain yang dianggap klasik: peradaban Islam, India atau Cina. Oleh karena letaknya yang jauh dan terdiri atas pulau-pulau yang seolah tak memiliki kepaduan, bagi kami, dunia Nusantara adalah sebuah cagar eksotisme dan benua hilang yang hanya ada dalam angan-angan. Namun, setelah lama terpasung oleh kecemburuan penguasa kolonial, Nusantara sedikit demi sedikit menemukan kembali tempatnya di jantung dunia modern… Timbulnya kembali minat itu tentunya wajar mengingat keanekaragaman budaya yang begitu mencengangkan. Sungguh tak ada satu pun tempat di dunia yang seperti halnya Nusantara.”

Itulah sedikit kekaguman seorang sejarawan Perancis, Prof. Dr. Denys Lombard, yang dituangkan dalam bukunya Nusa Jawa : Silang Budaya. Kekaguman-kekaguman Lombard memang menambah panjang daftar kekaguman para ahli humaniora para kawasan Nusantara. Mulai dari J.C. van Leur yang menganggap kawasan Nusantara-lah yang menggerakan roda perekonomian di Asia pada zaman kuno. Bernard Vlekke yang berpendapat bahwa Indonesia bukanlah disatukan oleh penjajahan VOC dan Belanda, tapi disatukan oleh perdagangan antar-pulau jauh sebelum orang Eropa datang. Hingga kepada Arrisyo du Santos yang berpendapat di kawasan Nusantara-lah sebenarnya benua Atlantis yang maju tapi tenggelam itu berada.

Kekaguman-kekaguman itu selayaknya mendapatkan tempat. Namun, arus modernisasi dan globalisasi rupa-rupanya menggerus ketahanan dan pertahanan budaya Indonesia. Inilah yang menyebabkan kaum muda di Indonesia seakan jauh dari ke-Indonesia-nya.

Ditambah lagi ‘alat’ untuk mempelajari kebudayaan dan masyarakat Indonesia juga tidak mendapatkan prioritas dalam keseharian pembelajaran di sekolah. Ilmu mengenai budaya dan masyarakat Indonesia dipelajari dalam Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Padahal mata pelajaran IPS memiliki salah satu peran penting dalam membentuk manusia Indoensia yang cerdas komprehensif, yaitu manusia yang mampu beraktualisasi diri melalui olah rasa untuk meningkatkan sensitivitas dan apresiativitas akan kehalusan dan keindahan seni dan budaya, serta kompetensi untuk mengekspresikannya.

Atas dasar pemikiran itulah, kami mempersembahkan Olimpiade Humaniora Nusantara (OHARA). Melalui OHARA ini diharapkan menggugah kaum muda Indonesia untuk peduli pada ketahanan budaya Nusantara. Sekaligus mengembangkan kebudayaan itu sebagai sokoguru peradaban dunia yang adil dan makmur di kemudian hari.